Hadits tentang Senyum Menurut Pandangan Agama Islam

Tersenyum mampu memberikan energi positif. Dengan tersenyum kita mendapatkan banyak manfaat dan keuntungan. Begitupun di mata agama, senyum merupakan sebuah kebaikan dan termasuk ibadah. Hal ini terbukti pada penjelasan hadits tentang senyum. 

Dalam fisiologi senyum merupakan ekspresi wajah yang terjadi karena gerakan di bibir ataupun pada dua ujung bibir yang terbentuk melengkung. Ekspresi sederhana ini memiliki banyak manfaat bahkan di mata agama islam memiliki banyak keutamaanya. Untuk lebih jelasnya mari simak hadits mengenai senyum yang ada di bawah ini.

Hadits tentang Senyum 

Di bawah ini merupakan beberapa hadits tentang senyum terhadap keutamaannya di mata agama islam. Berikut beserta penjelasannya. 

1. Senyum adalah Kebaikan

Seperti yang kita ketahui, bahwa senyum merupakan suatu energi yang positif dan tentunya memiliki banyak manfaatnya, terutama dalam kebaikan. Senyum disebut sebagai perbuatan kebaikan, ini dinyatakan dalam sebuah hadits riwayat Muslim tepatnya di no 2626.

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya  dengan bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR. Muslim no 2626)

Dalam riwayat di atas, dapat kita  pelajari bahwasannya saat berjumpa dengan saudara, rekan, ataupun orang-orang lainnya kita sebaiknya memberikan wajah yang berseri alias tersenyum. Sebab, mampu memunculkan kebaikan itu sendiri.

2. Hadits Senyum itu Sedekah

Pernahkah kamu mendengar bahwa senyum merupakan sedekah? Yap, benar. Hal ini tentu memudahkan seseorang yang fakir harta dan ingin melakukan sedekah. Sebab, dengan senyuman ia bisa mendapatkan pahala bersedekah. 

Hal tersebut tentunya didukung oleh hadits berikut ini:

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai)sedekah bagimu” (HR. Tirmidzi)

Tentu saja ini merupakan kabar gembira bagi setiap umat muslim, sebab tanpa mengeluarkan sedikit hartanya ia masih bisa bersedekah hanya dengan tersenyum di hadapan saudaranya, rekannya, ataupun orang-orang yang ada di lingkungannya.  

3. Hadits Senyumnya Rasulullah

Senyum mampu menghangatkan hubungan terhadap orang lain, sebab itulah kita diharuskan untuk selalu berseri di saat bertemu dengan orang lain. Sebab tadi, senyum merupakan kebajikan dan salah satu ibadah sedekah. 

Bahkan, Rasulullah merupakan seseorang yang begitu melimpah banyak rasa kasih sayangnya, hal ini karena senyumnya Rasulullah tidak pernah luntur. 

Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz’I dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah SAW. ” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah Saw, saja selalu tersenyum, masa umatnya tidak mau tersenyum untuk kebaikan?

4. Senyum yang Dilarang

Dan tahukah Anda, bahwa ada senyum yang dilarang, yakni tertawa berlebihan. Hal ini ditunjukan dengan hadits riwayat at-Tirmidzi no.22277 yang berbunyi:

 “Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati dan menghilangkan kharisma seorang mukmin.” (HR at-Tirmizi no.2227)

Nah dengan ini, kita tahu betul bahwa yang berlebihan memiliki dampak mudharatnya. Selain itu, Rasulullah tidak pernah terlihat tertawa terbahak-bahak, sesuai dengan dukungan hadits yang ada di bawah ini.

“Tidak Pernah sekalipun aku melihat Rasulullah SAW tertawa terbahak-bahak, sehingga kelihatan kerongkongannya. Akan tetapi, tertawanya baginda adalah dengan tersenyum.” (HR Ibnu Majah no. 4183)

Oleh karena itu, tersenyumlah secukupnya tanpa berlebihan hingga tertawa terbahak-bahak. Senyum merupakan suatu perbuatan kebaikan jika dilakukan tanpa berlebihan.

Kumpulan Hadits Tentang Senyum Lainnya

Terdapat 22 hadits berdasarkan pencarian Hadits Tentang Senyum.

HR. Musnad Ahmad No. 18383 – Dan dari Hadits Jarir bin Abdullah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Bab: Dan dari Hadits Jarir bin Abdullah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin Amr Telah menceritakan kepada kami Za`idah Telah menceritakan kepada kami Bayan dari Qais dari Jarir ia berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah melarangku untuk menemuinya semenjak aku memeluk Islam, dan tidak pula beliau melihatku selain beliau menebarkan senyum."

Copy
Lebih Banyak

Nas

حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا زَائِدَةُ حَدَّثَنَا بَيَانُ عَنْ قَيْسٍ عَنْ جَرِيرٍ قَالَ مَا حَجَبَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ وَلَا رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ

Copy
Lebih Banyak

HR. Musnad Ahmad No. 12090 – Musnad Anas bin Malik Radliyallahu ‘anhu

Bab: Musnad Anas bin Malik Radliyallahu 'anhu

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman berkata, saya telah mendengar Malik bin Anas dari Ishaq bin Abdillah bin Abi Thalhah dari Anas bin Malik berkata: "Saya berjalan bersama Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam dan ketika itu Beliau Shallallahu'alaihi wa Sallam memakai selimut Najran yang tebal ujungnya, lalu ada seorang badwi yang menjumpai beliau Shallallahu'alaihi wa Sallam. Kontan ditariknya Rasulullah dengan kuat hingga saya melihat permukaan leher beliau berbekas lantaran ujung selimut akibat tarikan si badwi yang kasar. Badwi tersebut berkata: "Wahai Muhammad berikan kepadaku dari harta yang diberikan Allah padamu", maka (Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam) menoleh kepadanya diiringi senyum serta menyuruh salah seorang sahabat untuk memberi suatu hadiah untuknya."

Copy
Lebih Banyak

Nas

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كُنْتُ أَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَبَذَهُ جَبْذَةً حَتَّى رَأَيْتُ صَفْحَ أَوْ صَفْحَةَ عُنُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَثَّرَتْ بِهَا حَاشِيَةُ الْبُرْدِ مِنْ شِدَّةِ جَبْذَتِهِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَعْطِنِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ

Copy
Lebih Banyak

HR. Musnad Ahmad No. 15618 – Hadits ‘Abbas bin Mirdas As Sulami Radliyallahu ta’ala ‘anhu

Bab: Hadits 'Abbas bin Mirdas As Sulami Radliyallahu ta'ala 'anhu

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Alhajjaj berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Qahir bin As-Sari berkata; telah menceritakan kepadaku salah seorang anak Kinanah bin 'Abbas bin Mirdas dari bapaknya bapaknya, Al 'Abbas bin Mirdas, menceritakannya, Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam, berdoa untuk ummatnya di Arafah pada waktu sore dengan pengampunan dan rahmat. Beliau memperbanyak doa, lalu Allah AzzaWaJalla menjawabnya, telah Aku kerjakan dan telah Aku ampuni dosa ummatmu kecuali yang berlaku zhalim di antara kalian. (Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam) bersabda: "Wahai Rabku Engkau mampu untuk mengampuni yang berbuat zhalim dan memberikan pahala bagi yang teraniaya atas kezhalimannya." Tidaklah beliau berdoa sore itu kecuali seperti itu, sampai kemudian pada esok harinya di Muzdalifah berdoa seperti sebelumnya, sampai kemudian terlihat senyum beliau. Sebagian sahabat berkata; "Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibumu, sungguh engkau tertawa pada waktu yang engkau tidak pernah tertawa saat itu, apakah gerangan yang membuatmu tertawa, apakah Allah yang yang menjadikan anda tertawa. (Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam) bersabda: "Aku tertawa dari musuh Allah iblis, ketika dia mengetahui bahwa Allah AzzaWaJalla mengabulkan permintaan doaku dengan mengampuni ummatku dan yang berbuat zhalim, kemudian mengampuni orang yang berbuat aniaya, Iblis mengambil pasir lalu manaburkannya di atas kepalanya, maka aku tersenyum karenanya."

Copy
Lebih Banyak

Nas

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجَّاجِ النَّاجِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْقَاهِرِ بْنُ السَّرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنٌ لِكِنَانَةَ بْنِ عَبَّاسِ بْنِ مِرْدَاسٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَبَاهُ الْعَبَّاسَ بْنَ مِرْدَاسٍ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا عَشِيَّةَ عَرَفَةَ لِأُمَّتِهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ فَأَكْثَرَ الدُّعَاءَ فَأَجَابَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ قَدْ فَعَلْتُ وَغَفَرْتُ لِأُمَّتِكَ إِلَّا مَنْ ظَلَمَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنَّكَ قَادِرٌ أَنْ تَغْفِرَ لِلظَّالِمِ وَتُثِيبَ الْمَظْلُومَ خَيْرًا مِنْ مَظْلَمَتِهِ فَلَمْ يَكُنْ فِي تِلْكَ الْعَشِيَّةِ إِلَّا ذَا فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ دَعَا غَدَاةَ الْمُزْدَلِفَةِ فَعَادَ يَدْعُو لِأُمَّتِهِ فَلَمْ يَلْبَثْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَبَسَّمَ فَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي ضَحِكْتَ فِي سَاعَةٍ لَمْ تَكُنْ تَضْحَكُ فِيهَا فَمَا أَضْحَكَكَ أَضْحَكَ اللَّهُ سِنَّكَ قَالَ تَبَسَّمْتُ مِنْ عَدُوِّ اللَّهِ إِبْلِيسَ حِينَ عَلِمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ اسْتَجَابَ لِي فِي أُمَّتِي وَغَفَرَ لِلظَّالِمِ أَهْوَى يَدْعُو بِالثُّبُورِ وَالْوَيْلِ وَيَحْثُو التُّرَابَ عَلَى رَأْسِهِ فَتَبَسَّمْتُ مِمَّا يَصْنَعُ جَزَعُهُ

Copy
Lebih Banyak

HR. Musnad Ahmad No. 17043 – Hadits Abdullah bin Al Harits bin Juz’I Az Zubaidi

Bab: Hadits Abdullah bin Al Harits bin Juz'I Az Zubaidi

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami Hasan Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari Ubaidullah bin Mughirah ia berkata, saya mendengar Abdullah bin Harits bin Juz` berkata, "Saya tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyum daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

Copy
Lebih Banyak

Nas

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ يَقُولُ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Copy
Lebih Banyak

HR. Musnad Ahmad No. 18380 – Dan dari Hadits Jarir bin Abdullah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Bab: Dan dari Hadits Jarir bin Abdullah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami Muhammd bin Ubaid Telah menceritakan kepada kami Isma'il dari Qais dari Jarir ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah menghalangi diriku untuk menemuinya semenjak aku masuk Islam, dan tidak pula beliau melihatku kecuali beliau menebarkan senyum."

Copy
Lebih Banyak

Nas

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ قَيْسٍ عَنْ جَرِيرٍ قَالَ مَا حَجَبَنِي عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ وَلَا رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ

Copy
Lebih Banyak

HR. Shahih Muslim No. 4410 – Keutamaan Umar radhiallahu ‘anhu

Bab: Keutamaan Umar radhiallahu 'anhu

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami Manshur bin Abu Muzahim; Telah menceritakan kepada kami Ibrahim yaitu Ibnu Sa'ad; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Hasan Al Hulwani dan 'Abad bin Humaid keduanya berkata; 'Abad berkata; Telah mengabarkan kepadaku; dan berkata Hasan; Telah menceritakan kepada kami Ya'qub yaitu Ibnu Ibrahim bin Sa'ad; Telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab; Telah mengabarkan kepadaku 'Abdul Hamid bin 'Abdur Rahman bin Zaid, Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqash Telah menceritakan kepadanya bahwa bapaknya yaitu Sa'ad berkata; "Pada suatu ketika Umar bin Khaththab pernah meminta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk bertamu kepada beliau yang saat itu ada beberapa wanita Quraisy yang sedang berbicara dengan beliau secara panjang lebar dan dengan suara yang lantang. Setelah Umar meminta izin untuk masuk, maka kaum wanita itu segera berdiri dan bersembunyi di balik tirai (hijab). Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mempersilahkan Umar masuk sambil tersenyum-senyum simpul. Umar berkata; "Apa yang membuat anda tersenyum ya Rasulullah!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Hai Umar, sebenarnya aku sendiri merasa heran dengan kaum wanita yang berada bersamaku tadi. Karena, ketika mereka mendengar suaramu, maka mereka segera bersembunyi." Lalu Umar berkata, Sebenarnya engkaulah yang lebih berhak mereka segani." Kemudian Umar menoleh ke tabir tempat kaum wanita dan berkata; "Hai orang-orang yang menjadi musuhnya sendiri, apakah kalian merasa segan kepadaku dan tidak segan kepada Rasulullah?" Kaum wanita Quraisy itu pun menjawab; "Ya, karena engkau lebih keras dari Rasulullah!" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda; "Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh tak ada syetan yang berpapasan denganmu di suatu jalan ya Umar, melainkan syetan tersebut akan berpaling ke jalan lain untuk menghindar dari jalanmu." Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma'ruf; Telah menceritakan kepada kami dengannya 'Abdul 'Aziz bin Muhammad; Telah mengabarkan kepadaku Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa 'Umar bin Al Khaththab datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang di saat itu ada beberapa wanita Quraisy sedang berbicara dengan beliau dengan suara yang lantang. Setelah Umar meminta izin untuk masuk, maka kaum wanita itu segera berdiri dan bersembunyi di balik tirai (hijab) -sebagaimana Hadits Az Zuhri.

Copy
Lebih Banyak

Nas

حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ ح و حَدَّثَنَا حَسَنٌ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنِي و قَالَ حَسَنٌ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَاهُ سَعْدًا قَالَ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ نِسَاءٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُكَلِّمْنَهُ وَيَسْتَكْثِرْنَهُ عَالِيَةً أَصْوَاتُهُنَّ فَلَمَّا اسْتَأْذَنَ عُمَرُ قُمْنَ يَبْتَدِرْنَ الْحِجَابَ فَأَذِنَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضْحَكُ فَقَالَ عُمَرُ أَضْحَكَ اللَّهُ سِنَّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِبْتُ مِنْ هَؤُلَاءِ اللَّاتِي كُنَّ عِنْدِي فَلَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ ابْتَدَرْنَ الْحِجَابَ قَالَ عُمَرُ فَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يَهَبْنَ ثُمَّ قَالَ عُمَرُ أَيْ عَدُوَّاتِ أَنْفُسِهِنَّ أَتَهَبْنَنِي وَلَا تَهَبْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَ نَعَمْ أَنْتَ أَغْلَظُ وَأَفَظُّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ حَدَّثَنَا بِهِ عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنِي سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ نِسْوَةٌ قَدْ رَفَعْنَ أَصْوَاتَهُنَّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا اسْتَأْذَنَ عُمَرُ ابْتَدَرْنَ الْحِجَابَ فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ الزُّهْرِيِّ

Copy
Lebih Banyak

HR. Musnad Ahmad No. 20012 – Hadits Jabir bin Samurah Radliyallahu ‘anhu

Bab: Hadits Jabir bin Samurah Radliyallahu 'anhu

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Syuja' bin Makhlad Abul Fadhal telah menceritakan kepada kami 'Abbad bin 'Awwam dari Hajjaj dari Simak -yaitu Ibnu Harb- dari Jabir bin Samurah ia berkata, "Betis Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam padat dan seimbang, beliau juga tidak tertawa kecuali dengan senyum, dan bila melihatnya aku menyangka beliau orang yang bercelak padahal beliau tidak bercelak."

Copy
Lebih Banyak

Nas

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي شُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ أَبُو الْفَضْلِ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ عَنِ الْحَجَّاجِ عَنْ سِمَاكٍ هُوَ ابْنُ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ كَانَ فِي سَاقَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُمُوشَةٌ وَكَانَ لَا يَضْحَكُ إِلَّا تَبَسُّمًا وَكُنْتُ إِذَا رَأَيْتُهُ قُلْتُ أَكْحَلُ الْعَيْنَيْنِ وَلَيْسَ بِأَكْحَلَ

Copy
Lebih Banyak

HR. Musnad Ahmad No. 25922 – Hadits Ka’b bin Malik Radliyallahu ‘anhu

Bab: Hadits Ka'b bin Malik Radliyallahu 'anhu

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami 'Abdurrazaq berkata, telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari 'Abdurrahman bin Ka'b bin Malik dari ayahnya dia berkata, "Aku tidak pernah tertinggal untuk selaluserta dalam peperangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hingga dalam Perang Tabuk. Kecuali Perang Badar, dan beliau tidak mencela seorangpun yang meninggalkannya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengumumkan kepada manusia untuk berangkat perang, dan beliau ingin agar para sahabat mempersiapkan diri dan perbekalan untuk perang mereka. Dan itu ketika musim kurma tiba, dan sudah menjadi kebiasaan bahwa beliau selalu merahasiakan ketika akan melakukan peperangan. Ya'qub menyebutkan dari Anak saudara dari Ibnu Syihab dengan lafadz 'kecuali beliau merahasiakannya'. Kami telah menceritakannya kepada Sufyan dari Ma'mar dari Az Zuhri dari 'Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'b bin Malik ia menyebutkan dalam riwayatnya, 'Beliau merahasiakannya'. Kemudian dia kembali kepada haditsnya 'Abdurrazaq, ia menyebutkan 'Perang adalah tipu daya'. Maka pada perang Tabuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ingin agar manusia mempersiapkan perbekalan. Pada saat itu, aku dalam keadaan sangat mudah bagiku. Tidaklah aku mengumpulkan dua kendaran sekaligus sebelumnya. Dan aku lebih mampu untuk berjihad serta mempersiapkan perbekalan. Namun saat itu aku lebih condong menikmati hasil panen dan banyaknya buah-buahan, dan aku masih terlena seperti itu hingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berangkat di pagi hari, dan itu terjadi pada hari kamis. Beliau lebih suka untuk berangkat hari kamis, maka beliau berangkat di pagi harinya (di hari Kamis)." Aku berkata, "Aku besok akan pergi ke pasar untuk membeli perbekalan lalu aku akan menyusul mereka." Maka besoknya aku pergi ke pasar, sementara perasaan (hati) ku mulai terasa berat, kemudian aku kembali seraya berucap, 'Aku akan kembali besok hari Insya Allah dan menyusul mereka'. Lagi-lagi keadaanku mulai terasa berat, masih saja aku seperti itu sehingga aku merasa telah berdosa karena telah meninggalkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian aku berjalan ke pasar dan mengelilingi kota Madinah, suatu hal yang sangat menyedihkanku, sungguh aku tidak melihat seorang pun yang tertinggal kecuali laki-laki yang terkenal kemunafikannya. Tidak ada seorang pun yang tertinggal melainkan diketahui bahwa ada suatu hal yang ia sembunyikan, dan kebanyakan orang-orang tidak menulis dalam daftar pasukan, sedangkan yang tidak ikut serta Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ada sekitar delapan puluh orang, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri tidak ingat dengan aku hingga beliau tiba di Tabuk. Tatkala beliau tiba di Tabuk, beliau bertanya: "Apa yang dilakukan Ka'b bin Malik? Maka seorang laki-laki dari kaumku berkata, "Mantelnya tertinggal wahai Rasulullah, sedangkan dia selalu memandanginya (ta'jub dengannya)." Dan Ya'qub menyebutkan dari anak saudaranya Ibnu Syihab, 'kain burdahnya dan selalu memandangi mantelnya Karena ta'jub'. Mu'adz bin Jabal berkata, "Alangkah buruk apa yang kamu katakan! Demi Allah Wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui keadaannya kecuali kebaikan." Ketika mereka sedang seperti itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang terlihat dari kejauhan, seperti bayangan fatamorgana. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Semoga dia adalah Abu Haitsamah." Dan ternyata benar, laki-laki itu adalah Abu Haitsamah. Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai dari perang Tabuk, beliau kembali sambil berseru dari Madinah, aku segera memikirkan, bagaimana aku akan keluar dari kemarahan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka aku akan meminta tolong dari orang-orang yang mempunyai pendapat jitu dari keluargaku. Tatkala sampai kabar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam akan sampai besok pagi, maka kebatilan pergi dariku, aku tahu sesungguhnya aku tidak bisa selamat darinya selamanya kecuali dengan kejujuran. Pada pagi hari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang, lantas beliau shalat dua rakaat. Jika beliau datang dari sebuah perjalanan, beliau selalu mengerjakan hal itu, beliau datang ke masjid lalu shalat dua rakaat kemudian duduk. Orang-orang yang tidak ikut serta kemudian datang menemui beliau untuk mengemukakan alasan-alasan mereka agar beliau memintakan ampun untuk mereka, maka beliau pun menerima alasan-alasan yang mereka tampakkan dan menyerahkan apa yang mereka sembunyikan kepada Allah 'azza wajalla. Lalu aku memasuki masjid, saat itu beliau sedang duduk, tatkala beliau melihatku, beliau senyum sinis kepadaku. Lalu aku datang sampai aku duduk di hadapannya. Beliau lalu bertanya kepadaku: "Bukankah kendaraanmu sudah siap?" Aku menjawab, "Benar wahai Nabiyullah." Beliau bersabda: "Apa yang menyebabkanmu tidak ikut serta?" Aku menjawab, "Jika di hadapanku adalah orang selian tuan, maka aku akan dapat keluar dari kemarahannya dengan satu alasan, karena aku telah diberi kemampuan untuk itu." Sementara Ya'qub menyebutkan dari Ibnu Akhi Ibnu Syihab, "Sungguh, aku mampu untuk keluar dari kemarahannya dengan alasan-alasan yang ada." Dan dalam riwayatnya 'Uqail, "Aku akan keluar dari kemarahannya dengan alasan-alasan yang ada, sungguh Allah akan memperingati tuan, dan jika aku menceritakan kepada tuan dengan jujur, maka anda akan mendapatkannya padaku, sesungguhnya aku mengharap ampunan dari Allah." Kemudian kembali kepada hadits 'Abdurrazaq, "Akan tetapi wahai Nabiyullah, sesungguhnya jika aku mengabarkan kepada tuan pada hari ini dengan perkataan, maka tuan akan mendapatkannya padaku bahwa itu adalah benar, sesungguhnya aku mengharapkan ampunan dari Allah, dan jika aku menceritakan kepada tuan pada hari ini dengan perkataan yang bisa meridlaiku dengan kedustaan, maka Allah pasti menyingkap (kebohongan) atasku. Demi Allah wahai Nabiyullah, saat itu aku dalam keadaan yang sangat mudah bagiku ketika aku tidak ikut bersama tuan." Beliau kemudian bersabda: "Ini merupakan sebuah kejujuran, bangunlah sampai Allah yang akan memberi keputusan kepadamu." Aku pun bangun, lalu beberapa laki-laki dari kaumku menemuiku, dan mereka berkata kepadaku, "Demi Allah, kami sebelumnya tidak mengeahui kamu telah berbuat dosa, kenapa kamu tidak meminta udzur kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang bisa memperoleh keredlaan-Nya, sebab istighfarnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan jiwamu tidak akan berhenti, dan tidak tahu keputusan apa yang akan menimpa dirimu." Dan mereka terus saja membujukku sampai aku berkeinginan untuk kembali dan membohongi diriku sendiri, maka aku pun berkata, "Apakah selain aku ada orang yang mengatakan seperti diriku?" Mereka menjawab, "Ya, dia adalah Hilal bin Umayah dan Murarah, yakni Ibnu Rabi'ah." Lalu mereka menyebutkan dua laki-laki shalih yang pernah ikut serta dalam perang Badr yang akan aku jadikan contoh, maka aku berkata, "Demi Allah, aku tidak akan kembali kepada beliau selamanya, dan sekali-kali aku tidak akan mendustai diriku." Selanjutnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang manusia untuk bercakap-cakap kepada kami -yaitu tiga orang-." Ka'b berkata, "Kemudian aku pergi ke pasar, dan tidak satu orang pun yang mengajak bicara kepada kami, orang-orang berpaling dari kami, sampai-sampai orang yang kami kenali pun ikut bersikap seperti itu. Kemudian menjadi sempitlah kebun bagiku hingga kami tidak kenal lagi kebun manakah yang kami tahu, dan bumipun menjadi sempit buat kami sampai aku tidak tahu bumi mana lagi yang aku tahu. Aku termasuk dari orang yang paling kuat di antara kedua sahabatku, kemudian aku berkeliling ke pasar dan mendatangi masjid untuk menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu aku mengucapkan salam kepada beliau, dalam hati aku berkata, 'Apakah beliau akan menjawab salam dengan kedua mulutnya atau tidak? ' Aku lalu shalat dengan menghadap tiang, ketika aku dalam shalat beliau melihatku, jika aku menoleh ke arah beliau, beliau berpaling dariku. Sedangkan kedua sahabatku selalu tinggal dirumah sambil menangis baik siang maupun malam hari. Keduanya tidak mau muncul di tengah-tengah manusia. Tatkala aku berjalan di pasar, tiba-tiba seorang Nashrani datang dengan membawa makanan yang dijual, dia berkata, 'Siapakah yang bisa menunjukkan aku kepada Ka'b bin Malik? ' Serentak orang-orang menununjukkan kepadaku, lalu dia mendatangiku dengan membawa selembar kertas dari Raja Ghassan, di dalamnya tertulis: 'Amma Ba'du. Telah sampai kepadaku bahwa sahabatmu telah mengasingkanmu, padahal kamu tidak berada di bumi yang sempit lagi hina, pergilah kepada kami, niscaya kami akan menolongmu.' Saat membacanya, aku pun berkata, 'Ini adalah bagian dari cobaan dan ujian.' Kemudian aku menyalakan api di tungku pembakaran, lalu kertas itu aku bakar, hinga ketika sudah lewat empat puluh hari, datanglah utusan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepadaku seraya berkata, "Tinggalkanlah isterimu! ' Maka aku bertanya, 'Apakah aku harus menceraikannya? ' Dia menjawab, 'Tidak, tapi tinggalkan saja dan jangan kau dekati dia.' Lalu datanglah isteri Hilal bin Umayyah dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal adalah orang yang sudah tua yang tidak ada lagi orang yang mengurusinya, apakah tuan mengizinkanku jika aku melayaninya? ' Beliau bersabda: "Ya, tapi jangan sampai dia mendekatimu.' Wanita itu lalu berkata, "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya dia sudah tidak mampu bergerak lagi. Demi Allah, dia masih tetap menangis siang malam sejak ada perintah dari tuan.' Ka'b bin Malik berkata, "Tatkala aku merasa bahwa cobaan yang aku alami sudah lama, aku beringinan untuk memanjat dinding kebun milik Abu Qatadah, dia adalah anak pamanku. Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya, namun dia tidak menjawab salamku. Lalu aku berkata, 'Demi Allah, wahai Abu Qatadah, apakah kamu tidak tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya? ' Maka dia diam. Kemudian aku berkata, 'Demi Allah, wahai Abu Qatadah, apakah kamu tidak tahu bahwa aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya? ' Dia lantas menjwab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui'." Ka'b bin Malik berkata, "Aku tidak dapat menguasai diriku sehingga meneteslah air mataku, kemudian aku memanjat dinding luarnya sampai berlalu lima puluh malam semenjak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang orang-orang untuk bercakap kepada kami, lantas aku mengerjakan shalat fajar di rumah kami, lalu aku duduk di suatu tempat yang Allah Azza Wa Jalla telah firmankan, sungguh bumi yang luas sudah sangat terasa sempit bagiku dan jiwaku sudah sangat sempit, tiba-tiba aku mendengar orang yang berteriak dari atas bukit Sal', 'Bergembiralah wahai Ka'b bin Malik! ' Lalu aku tergeletak sujud dan aku tahu bahwa Allah telah mendatangkan untukku jalan keluar, kemudian datanglah seorang laki-laki yang naik kuda dengan membawa berita gembiraku, ternyata suaranya lebih cepat daripada kudanya, lantas aku lepaskan pakaianku dan aku pakaikan kepadanya karena berita gembira tersebut, kemudian aku kenakan kedua pakaianku yang lain. Dan taubat kami turun kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di sepertiga malam, maka Ummu Salamah berkata, 'Apakah sebaiknya pada malam hari ini kita berikan kabar gembira ini kepada Ka'b bin Malik wahai Rasulullah? ' Beliau menjawab: 'Kalau begitu kamu akan mendapatkan celaan dari orang-orang karena kamu telah menghalangi tidur mereka pada malam hari.' Ummu Salamah adalah orang yang baik hati, dan sangat bagus perilakunya kepadaku, dia sangat sedih dengan keadaanku, kemudian aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan saat itu beliau sedang duduk di masjid, sedangkan kaum Muslimin berada di samping beliau, wajah beliau bersinar sebagaimana sinarnya bulan, dan jika beliau bahagia, maka wajahnya bersinar. Kemudian aku datang dan duduk di hadapan beliau, lantas beliau bersabda: "Bergembiralah wahai Ka'b bin Malik dengan hari yang paling bahagia bagimu sejak kamu dilahirkan ibumu." Aku berkata, "Wahai Nabiyullah, apakah perkara ini dari tuan ataukah langsung dari Allah?" Beliau bersabda: "Bahkan dari Allah Azza Wa Jalla." Kemudian beliau membacakan kepada mereka, '(Sesungguhnya Allah Telah menerima Taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar …) ' sampai kepada firman Allah '(…Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang) ' (Qs. At Taubah: 17-18). Dan tentang diri kami juga turun ayat: '(Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar) ' (Qs. At TAubah: 119). Maka aku pun berkata, "Wahai Nabiyullah, sesungguhnya bagian dari taubatku, sungguh aku tidak akan berkata kecuali dengan kejujuran, dan aku akan melepaskan hartaku sebagai sedekah kepada Allah Ta'ala dan kepada Rasul-Nya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Tahanlah sebagian hartamu, hal itu lebih baik bagimu." Aku berkata, "Lalu aku menahan bagianku yang ada di Khaibar." Ka'b bin Malik berkata, "Maka tidak ada ni'mat yang lebih besar yang diberikan Allah kepadaku setelah nikmat Islam dari kejujuranku di hadapan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam, ketika aku dan kedua sahabatku membenarkannya, bahwa kami tidak akan berdusta yang akan menyebabkan diri kami binasa sebagaimana mereka binasa. Sesungguhnya aku berharap semoga Allah Azza Wa Jalla tidak memberikan cobaan kepada seorangpun dari kalangan kaum muslimin dalam kejujuran sebagaimana cobaan-Nya kepadaku. Sungguh, aku berharap semoga Allah menjagaku di sisa umurku ini."

Copy
Lebih Banyak

Nas

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمْ أَتَخَلَّفْ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ غَزَاهَا حَتَّى كَانَتْ غَزْوَةُ تَبُوكَ إِلَّا بَدْرًا وَلَمْ يُعَاتِبْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدًا تَخَلَّفَ عَنْ بَدْرٍ إِنَّمَا خَرَجَ يُرِيدُ الْعِيرَ فَخَرَجَتْ قُرَيْشٌ مُغَوِّثِينَ لِعِيرِهِمْ فَالْتَقَوْا عَنْ غَيْرِ مَوْعِدٍ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَعَمْرِي إِنَّ أَشْرَفَ مَشَاهِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ لَبَدْرٌ وَمَا أُحِبُّ أَنِّي كُنْتُ شَهِدْتُهَا مَكَانَ بَيْعَتِي لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ حَيْثُ تَوَافَقْنَا عَلَى الْإِسْلَامِ وَلَمْ أَتَخَلَّفْ بَعْدُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا حَتَّى كَانَتْ غَزْوَةُ تَبُوكَ وَهِيَ آخِرُ غَزْوَةٍ غَزَاهَا فَأَذِنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنَّاسِ بِالرَّحِيلِ وَأَرَادَ أَنْ يَتَأَهَّبُوا أُهْبَةَ غَزْوِهِمْ وَذَلِكَ حِينَ طَابَ الظِّلَالُ وَطَابَتْ الثِّمَارُ فَكَانَ قَلَّمَا أَرَادَ غَزْوَةً إِلَّا وَرَّى غَيْرَهَا وَقَالَ يَعْقُوبُ عَنِ ابْنِ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ إِلَّا وَرَّى بِغَيْرِهَا حَدَّثَنَاهُ سُفْيَانَ عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ وَقَالَ فِيهِ وَرَّى غَيْرَهَا ثُمَّ رَجَعَ إِلَى حَدِيثِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ وَكَانَ يَقُولُ الْحَرْبُ خَدْعَةٌ فَأَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ أَنْ يَتَأَهَّبَ النَّاسُ أُهْبَةً وَأَنَا أَيْسَرُ مَا كُنْتُ قَدْ جَمَعْتُ رَاحِلَتَيْنِ وَأَنَا أَقْدَرُ شَيْءٍ فِي نَفْسِي عَلَى الْجِهَادِ وَخِفَّةِ الْحَاذِ وَأَنَا فِي ذَلِكَ أَصْغُو إِلَى الظِّلَالِ وَطِيبِ الثِّمَارِ فَلَمْ أَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَادِيًا بِالْغَدَاةِ وَذَلِكَ يَوْمَ الْخَمِيسِ وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ فَأَصْبَحَ غَادِيًا فَقُلْتُ أَنْطَلِقُ غَدًا إِلَى السُّوقِ فَأَشْتَرِي جَهَازِي ثُمَّ أَلْحَقُ بِهِمْ فَانْطَلَقْتُ إِلَى السُّوقِ مِنْ الْغَدِ فَعَسُرَ عَلَيَّ بَعْضُ شَأْنِي فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ أَرْجِعُ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَأَلْحَقُ بِهِمْ فَعَسُرَ عَلَيَّ بَعْضُ شَأْنِي فَلَمْ أَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى الْتَبَسَ بِي الذَّنْبُ وَتَخَلَّفْتُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلْتُ أَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ وَأَطُوفُ بِالْمَدِينَةِ فَيُحْزِنُنِي أَنِّي لَا أَرَى أَحَدًا تَخَلَّفَ إِلَّا رَجُلًا مَغْمُوصًا عَلَيْهِ فِي النِّفَاقِ وَكَانَ لَيْسَ أَحَدٌ تَخَلَّفَ إِلَّا رَأَى أَنَّ ذَلِكَ سَيُخْفَى لَهُ وَكَانَ النَّاسُ كَثِيرًا لَا يَجْمَعُهُمْ دِيوَانٌ وَكَانَ جَمِيعُ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضْعَةً وَثَمَانِينَ رَجُلًا وَلَمْ يَذْكُرْنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَلَغَ تَبُوكًا فَلَمَّا بَلَغَ تَبُوكًا قَالَ مَا فَعَلَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِي خَلَّفَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بُرْدَيْهِ وَالنَّظَرُ فِي عِطْفَيْهِ وَقَالَ يَعْقُوبُ عَنِ ابْنِ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ بُرْدَاهُ وَالنَّظَرُ فِي عِطْفَيْهِ فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ بِئْسَمَا قُلْتَ وَاللَّهِ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا نَعْلَمُ إِلَّا خَيْرًا فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ إِذَا هُمْ بِرَجُلٍ يَزُولُ بِهِ السَّرَابُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ أَبَا خَيْثَمَةَ فَإِذَا هُوَ أَبُو خَيْثَمَةَ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةَ تَبُوكَ وَقَفَلَ وَدَنَا مِنْ الْمَدِينَةِ جَعَلْتُ أَتَذَكَّرُ بِمَاذَا أَخْرُجُ مِنْ سَخْطَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسْتَعِينُ عَلَى ذَلِكَ كُلَّ ذِي رَأْيٍ مِنْ أَهْلِي حَتَّى إِذَا قِيلَ النَّبِيُّ هُوَ مُصْبِحُكُمْ بِالْغَدَاةِ زَاحَ عَنِّي الْبَاطِلُ وَعَرَفْتُ أَنِّي لَا أَنْجُو إِلَّا بِالصِّدْقِ وَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضُحًى فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ وَكَانَ إِذَا جَاءَ مِنْ سَفَرٍ فَعَلَ ذَلِكَ وَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ فَجَعَلَ يَأْتِيهِ مَنْ تَخَلَّفَ فَيَحْلِفُونَ لَهُ وَيَعْتَذِرُونَ إِلَيْهِ فَيَسْتَغْفِرُ لَهُمْ وَيَقْبَلُ عَلَانِيَتَهُمْ وَيَكِلُ سَرَائِرَهُمْ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَدَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ جَالِسٌ فَلَمَّا رَآنِي تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ الْمُغْضَبِ فَجِئْتُ فَجَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ أَلَمْ تَكُنْ ابْتَعْتَ ظَهْرَكَ قُلْتُ بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ فَمَا خَلَّفَكَ قُلْتُ وَاللَّهِ لَوْ بَيْنَ يَدَيْ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ غَيْرَكَ جَلَسْتُ لَخَرَجْتُ مِنْ سَخْطَتِهِ بِعُذْرٍ لَقَدْ أُوتِيتُ جَدَلًا وَقَالَ يَعْقُوبُ عَنِ ابْنِ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ لَرَأَيْتُ أَنْ أَخْرُجَ مِنْ سَخْطَتِهِ بِعُذْرٍ وَفِي حَدِيثِ عُقَيْلٍ أَخْرُجُ مِنْ سَخْطَتِهِ بِعُذْرٍ وَفِيهِ لَيُوشِكَنَّ أَنَّ اللَّهَ يُسْخِطُكَ عَلَيَّ وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ إِنِّي لَأَرْجُو فِيهِ عَفْوَ اللَّهِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى حَدِيثِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ وَلَكِنْ قَدْ عَلِمْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَنِّي إِنْ أَخْبَرْتُكَ الْيَوْمَ بِقَوْلٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ وَهُوَ حَقٌّ فَإِنِّي أَرْجُو فِيهِ عَفْوَ اللَّهِ وَإِنْ حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حَدِيثًا تَرْضَى عَنِّي فِيهِ وَهُوَ كَذِبٌ أُوشِكُ أَنْ يُطْلِعَكَ اللَّهُ عَلَيَّ وَاللَّهِ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَيْسَرَ وَلَا أَخَفَّ حَاذًا مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ فَقَالَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ صَدَقَكُمْ الْحَدِيثَ قُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِيكَ فَقُمْتُ فَثَارَ عَلَى أَثَرِي نَاسٌ مِنْ قَوْمِي يُؤَنِّبُونَنِي فَقَالُوا وَاللَّهِ مَا نَعْلَمُكَ أَذْنَبْتَ ذَنْبًا قَطُّ قَبْلَ هَذَا فَهَلَّا اعْتَذَرْتَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُذْرٍ يَرْضَى عَنْكَ فِيهِ فَكَانَ اسْتِغْفَارُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي مِنْ وَرَاءِ ذَنْبِكَ وَلَمْ تُقِفْ نَفْسَكَ مَوْقِفًا لَا تَدْرِي مَاذَا يُقْضَى لَكَ فِيهِ فَلَمْ يَزَالُوا يُؤَنِّبُونَنِي حَتَّى هَمَمْتُ أَنْ أَرْجِعَ فَأُكَذِّبَ نَفْسِي فَقُلْتُ هَلْ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ أَحَدٌ غَيْرِي قَالُوا نَعَمْ هِلَالُ بْنُ أُمَيَّةَ وَمَرَارَةُ يَعْنِي ابْنَ رَبِيعَةَ فَذَكَرُوا رَجُلَيْنِ صَالِحَيْنِ قَدْ شَهِدَا بَدْرًا لِي فِيهِمَا يَعْنِي أُسْوَةً فَقُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَرْجِعُ إِلَيْهِ فِي هَذَا أَبَدًا وَلَا أُكَذِّبُ نَفْسِي وَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ عَنْ كَلَامِنَا أَيُّهَا الثَّلَاثَةُ قَالَ فَجَعَلْتُ أَخْرُجُ إِلَى السُّوقِ فَلَا يُكَلِّمُنِي أَحَدٌ وَتَنَكَّرَ لَنَا النَّاسُ حَتَّى مَا هُمْ بِالَّذِينَ نَعْرِفُ وَتَنَكَّرَتْ لَنَا الْحِيطَانُ الَّتِي نَعْرِفُ حَتَّى مَا هِيَ الْحِيطَانُ الَّتِي نَعْرِفُ وَتَنَكَّرَتْ لَنَا الْأَرْضُ حَتَّى مَا هِيَ الْأَرْضُ الَّتِي نَعْرِفُ وَكُنْتُ أَقْوَى أَصْحَابِي فَكُنْتُ أَخْرُجُ فَأَطُوفُ بِالْأَسْوَاقِ وَآتِي الْمَسْجِدَ فَأَدْخُلُ وَآتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُسَلِّمُ عَلَيْهِ فَأَقُولُ هَلْ حَرَّكَ شَفَتَيْهِ بِالسَّلَامِ فَإِذَا قُمْتُ أُصَلِّي إِلَى سَارِيَةٍ فَأَقْبَلْتُ قِبَلَ صَلَاتِي نَظَرَ إِلَيَّ بِمُؤَخَّرِ عَيْنَيْهِ وَإِذَا نَظَرْتُ إِلَيْهِ أَعْرَضَ عَنِّي وَاسْتَكَانَ صَاحِبَايَ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يُطْلِعَانِ رُءُوسَهُمَا فَبَيْنَا أَنَا أَطُوفُ السُّوقَ إِذَا رَجُلٌ نَصْرَانِيٌّ جَاءَ بِطَعَامٍ يَبِيعُهُ يَقُولُ مَنْ يَدُلُّ عَلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيرُونَ لَهُ إِلَيَّ فَأَتَانِي وَأَتَانِي بِصَحِيفَةٍ مِنْ مَلِكِ غَسَّانَ فَإِذَا فِيهَا أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّ صَاحِبَكَ قَدْ جَفَاكَ وَأَقْصَاكَ وَلَسْتَ بِدَارِ مَضْيَعَةٍ وَلَا هَوَانٍ فَالْحَقْ بِنَا نُوَاسِيكَ فَقُلْتُ هَذَا أَيْضًا مِنْ الْبَلَاءِ وَالشَّرِّ فَسَجَرْتُ لَهَا التَّنُّورَ وَأَحْرَقْتُهَا فِيهِ فَلَمَّا مَضَتْ أَرْبَعُونَ لَيْلَةً إِذَا رَسُولٌ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَتَانِي فَقَالَ اعْتَزِلْ امْرَأَتَكَ فَقُلْتُ أُطَلِّقُهَا قَالَ لَا وَلَكِنْ لَا تَقْرَبَنَّهَا فَجَاءَتْ امْرَأَةُ هِلَالٍ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هِلَالَ بْنَ أُمَيَّةَ شَيْخٌ ضَعِيفٌ فَهَلْ تَأْذَنُ لِي أَنْ أَخْدُمَهُ قَالَ نَعَمْ وَلَكِنْ لَا يَقْرَبَنَّكِ قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا بِهِ حَرَكَةٌ لِشَيْءٍ مَا زَالَ مُكِبًّا يَبْكِي اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ مُنْذُ كَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ قَالَ كَعْبٌ فَلَمَّا طَالَ عَلَيَّ الْبَلَاءُ اقْتَحَمْتُ عَلَى أَبِي قَتَادَةَ حَائِطَهُ وَهُوَ ابْنُ عَمِّي فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ أَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا قَتَادَةَ أَتَعْلَمُ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَسَكَتَ ثُمَّ قُلْتُ أَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا قَتَادَةَ أَتَعْلَمُ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَلَمْ أَمْلِكْ نَفْسِي أَنْ بَكَيْتُ ثُمَّ اقْتَحَمْتُ الْحَائِطَ خَارِجًا حَتَّى إِذَا مَضَتْ خَمْسُونَ لَيْلَةً مِنْ حِينِ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ عَنْ كَلَامِنَا صَلَّيْتُ عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ لَنَا صَلَاةَ الْفَجْرِ ثُمَّ جَلَسْتُ وَأَنَا فِي الْمَنْزِلَةِ الَّتِي قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ ضَاقَتْ عَل

Copy
Lebih Banyak

HR. Sunan at-Tirmidzi No. 3575 – Keceriaan nabi ShollAllahu ‘alaihi wa Salam

Bab: Keceriaan nabi ShollAllahu 'alaihi wa Salam

Terjemahan

Dan di riwayatkan pula dari Yazid bin Abu Habib dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i seperti ini, telah menceritakan kepada kami seperti itu Ahmad bin Khalid Al Khallal telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq As Sailahani telah menceritakan kepada kami Al Laits bin Sa'd dari Yazid bin Abu Habib dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i dia berkata; "Tertawanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanya sekedar senyum." Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib. Kami tidak mengetahuinya dari hadits Laits bin Sa'd melainkan dari jalur ini."

Copy
Lebih Banyak

Nas

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ مِثْلُ هَذَا حَدَّثَنَا بِذَلِكَ أَحْمَدُ بْنُ خَالِدٍ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَقَ السَّيْلَحَانِيُّ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ قَالَ مَا كَانَ ضَحِكُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَبَسُّمًا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ لَيْثِ بْنِ سَعْدٍ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Copy
Lebih Banyak

HR. Sunan Abu Dawud No. 3562 – Isbal pada sarung

Bab: Isbal pada sarung

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abu Ghifar berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Tamimah Al Hujaimi -dan Abu Tamimah namanya adalah Tharif bin Mujalid- dari Abu Jurai Jabir bin Sulaim ia berkata, "Aku melihat seorang laki-laki yang fikirannya dijadikan sandaran oleh orang banyak, dan ia tidak mengatakan sesuatu kecuali orang-orang akan mengikutinya. Aku lalu bertanya, "Siapakah dia?" orang-orang menjawab, "Ini adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." maka aku pun berkata, 'Wahai Rasulullah, 'Alaika As Salam (semoga keselamatan bersamamu) ' wahai Rasulullah, sebanyak dua kali. Beliau bersabda: "Jangan engkau ucapkan 'Alaika As Salam', karena 'Alaika As Salam adalah penghormatan dan salam untuk mayit. Tetapi ucapkanlah 'As Salamu 'Alaika'." Jabir bin Sulaim berkata, "Aku lalu bertanya, "Apakah engkau utusan Allah?" beliau menjawab: "Ya, aku adalah utusan Allah, Dzat yang jika engkau tertimpa musibah, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkannya darimu. Jika kamu tertimpa paceklik, lalu engkau berdoa maka Dia akan menumbuhkan (tanaman) bagi kamu. Jika engkau berada di suatu tempat yang luas hingga kendaraanmu hilang, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengembalikannya kepadamu." Jabir bin Sulaim berkata, "Lalu aku berkata, "Berilah kami perjanjian." Beliau bersabda: "Jangan sekali-kali engaku cela orang lain." Jabir bin Sulaim berkata, "Setelah itu aku tidak pernah mencela seorang pun; orang merdeka atau budak, unta atau kambing." Beliau bersabda lagi: "Janganlah engkau remehkan perkara ma'ruf, berbicaralah kepada saudaramu dengan wajah yang penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari perkara yang ma'ruf. Angkatlah sarungmu hingga setengah betis, jika tidak maka hingga kedua mata kaki. Dan janganlah engkau julurkan sarungmu karena itu bagian dari sifat sombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai sifat sombong. Jika ada seseorang yang mencela dan memakimu karena cela yang ia ketahui darimu, maka janganlah engkau balas memaki karena cela yang engkau ketahui padanya, karena hal itu akan memberatkannya (pada hari kiamat)."

Copy
Lebih Banyak

Nas

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَبِي غِفَارٍ حَدَّثَنَا أَبُو تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيُّ وَأَبُو تَمِيمَةَ اسْمُهُ طَرِيفُ بْنُ مُجَالِدٍ عَنْ أَبِي جُرَيٍّ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ قَالَ رَأَيْتُ رَجُلًا يَصْدُرُ النَّاسُ عَنْ رَأْيِهِ لَا يَقُولُ شَيْئًا إِلَّا صَدَرُوا عَنْهُ قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ عَلَيْكَ السَّلَامُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَرَّتَيْنِ قَالَ لَا تَقُلْ عَلَيْكَ السَّلَامُ فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامُ تَحِيَّةُ الْمَيِّتِ قُلْ السَّلَامُ عَلَيْكَ قَالَ قُلْتُ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَنَا رَسُولُ اللَّهِ الَّذِي إِذَا أَصَابَكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ كَشَفَهُ عَنْكَ وَإِنْ أَصَابَكَ عَامُ سَنَةٍ فَدَعَوْتَهُ أَنْبَتَهَا لَكَ وَإِذَا كُنْتَ بِأَرْضٍ قَفْرَاءَ أَوْ فَلَاةٍ فَضَلَّتْ رَاحِلَتُكَ فَدَعَوْتَهُ رَدَّهَا عَلَيْكَ قَالَ قُلْتُ اعْهَدْ إِلَيَّ قَالَ لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا قَالَ فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا وَلَا عَبْدًا وَلَا بَعِيرًا وَلَا شَاةً قَالَ وَلَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنْ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنْ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

Copy
Lebih Banyak

Nah itulah penjelasan mengenai keutamaan keempat hadits tentang senyum di atas. Dengan membaca artikel, semoga bisa bermanfaat dan menerapkan keutamaan tersenyum ini agar senantiasa mendapatkan kebaikan dari senyum itu sendiri, ya.

Admin mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan pada artikel Hadits tentang Senyum Menurut Pandangan Agama Islam.

Jika terdapat kesalahan dimohon untuk kontak admin lewat email berikut ini: sativawahyu4@gmail.com.

Terima kasih kawan-kawan telah mengunjungi website kami.

Leave a Comment